° aNaNda ScHoooL °
LogIN dLo ya... ^^v.
Bagi Yg Blm Mempunyai. Harap Registrasi terlebih dahulu.

By : adminisTraTor
° aNaNda ScHoooL °

° aNaNda ScHoooL ° ForuM ..

Di Sarankan untuk Rajin Memposting. Oh Galih, Oh Ratna ~ Oh Hoki, Oh Adam ~.stiap member yg udh memposting sebanyak 50x. akan di perbolehkan mengganti nickname ( nama ) dengan mengkonfirmasikan kepada administrator terlebih dahulu.So. We Are The Best So Join Us.

You are not connected. Please login or register

Sam Ratulangi. Selaku Pejuang Kemerdekaan

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

1 Sam Ratulangi. Selaku Pejuang Kemerdekaan on Thu Mar 26, 2009 1:04 am

Sam Ratulangi selaku Pejuang Kemerdekaan

Oleh : Emilia A. Pangalila – Ratulangie MD.PhD.

Ayah saya sebenarnya seorang yang tak mudah dimengerti (complicated).
Tetapi sebenarnya tak lebih complicated daripada manusia umumnya.

Pada malam hari seusai pertemuan dengan panitia penyelenggara Seminar
Sarasehan ini, yang membahas tentang Pembagian materi pokok-pokok
pembicaraan, saya bermimpi tentang sesuatu hal yang sebenarnya
mengerikan, akan tetapi rupanya tak sampai menakutkan saya, hal ini
dikarenakan adanya perasaan bahwa saya masih mampu mencegah terjadinya
hal-hal yang bukan-bukan tsb. Isi dari mimpi tersebut, adalah tentang
gambaran sebuah tubuh manusia yang terpotong-potong dibagian-bagiannya.
Saya sadar bahwa mimpi ini disebabkan / masih berhubungan dengan
pembicaraan-pembicaraan dengan panitia malam itu. Setelah saya amati
lebih jauh, rupanya tubuh itu adalah tubuh ayahku sendiri. Walaupun
beban untuk mencegah hal itu sampai dapat terjadi adalah berat sekali,
namun didalam hati kecil, saya tahu bagaimana aspek-aspek psychologis
ayah saya yang rupanya saling bertentangan dapat dipersatukan dalam
suatu Roh manusia.

Ayahku menemui banyak pertentangan dalam peristiwa-peristiwa masyarakat
disekelilingnya. Tetapi walaupun demikian ia selalu dapat bersikap
sehingga tak suatupun diremehkan. Mungkin kejujuran diri adalah akal
dari jelasnya sikap politiknya, yang menyebabkan ia diterima orang
banyak selaku pemimpin, karena mereka merasa dia bisa mengerti atas
persoalan mereka. Jelaslah ayahku tak mudah memilih partai politik
apapun juga , karena terlampau mengerti visi dan misi partai-partai
tersebut. Sehingga sikapnya transparan, saya acapkali heran bagaimana
seorang seperti ayah dapat terbentuk. Hidupnya membenarkan "Si tou
timou tumou tou" dalam arti "Orang menjadi manusia untuk melaksanakan
kemanusiaannya"

Saya teringat pada suatu kejadian yang ayah ceritakan kepada saya, pada
saat beliau lulus Sekolah Teknik Menengah, pada tahun 1908 berumur 18
tahun, ia dipekerjakan pada Jawatan Kereta api di Jawa, Ia terjangkit
Penyakit Malaria Tropika disertai demam keras yang parah sekali, merasa
sedang berjalan kedunia lain. Ia tidur digubuknya dan merasa aman &
sentausa, seperti tidur diperahu kecil yang dibawa arus aliran air,
diantara tumbuhan air dan dibawa kearah suatu kejelasan yang
melindunginya….; Tetapi sekonyong-konyong masuklah Dr Rolland
Tumbelaka, kawan karibnya yang segera mendiagnose keadaan ayah dan
memberi suntikan kina (kinine). Kemudian ….. "Alam hayal kesentausaan
yang ada tadinya…" dalam sekejab menjadi hilang sama sekali, dan ayah
harus hidup terus, semula dia betul-betul marah dengan Dr Roland,
tetapi kemudian dia mengerti akan keadaan sebenarnya.

Saya seorang ahli Psychiatry baru setelah hampir seratus tahun
kemudian, mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, dalam
lapangan ilmu psychology telah terbukti secara ilmiah bahwa orang yang
mengalami hampir mati dalam kehidupan seterusnya, berubah akan menjadi
lebih bijaksana dan lebih dapat mengerti dan merasa isi hati orang
lain. Rupanya kejadian tersebut diatas ialah kunci untuk mengerti jiwa
politik ayah, yang tak pernah licik dan merugikan orang lain, akan
tetapi selalu transparan.

Teringatlah saya pada suatu nasehat, yang guru Polonius memberikan kepada Hamlet (anak raja Denmark),

"… Be true to thine oneself , and it must follow like the day upon the night, thou canst then be false to any other men..".

Bila jujur pada diri sendiri, maka seperti malam menjadi siang, anda tak dapat berbuat curang terhadap orang lain.



Waktu ayahku belajar di Belanda 1913, usia 30 tahun, dia menulis suatu
brosur yang bernama Sarikat Islam, yang diterbitkan oleh Humanitas
Durat, sebagai reaksi terhadap Pidato Kerajaan Gubernur Jenderal, 13
September 1913, yang mulai dengan perkataan :

" Tenaga yang masih tidur telah bangun, hasrat tersembunyi
meperlihatkan diri. Kesadaran umum menyebabkan tuntutan memperoleh
buah-buahan dari Barat".

Kata-kata itu benar, sebagai bukti ialah Budi Utomo sebagai organisasi
didirikan oleh pelajar-pelajar Kedokteran di Batavia, yang membuktikan
orang Jawa bangun sebagai manusia yang berhak dan berkewajiban sesuai
dengan adat Kejawaannya. Sebagai reaksi atas berdirinya Budi Utomo maka
terjadilah Minahasa Muda, Ambon Muda dan beberapa organisasi yang lain
di Sumatera, tetapi Budi Utomo terutama hanya diikuti oleh kaum
intelektual dan priayi, karena itu tidak ditakuti oleh masyarakat
Eropa; sebaliknya Serikat Dagang Islam yang didirikan di Solo,
didirikan karena pedagang-pedagang kecil di Jawa, merasa disingkirkan
oleh pedagang-pedagang kecil Cina, ditakuti oleh Masyarakat Eropa.
Pegawai Pemerintahan Kolonial takdapat bertindak terhadap para pedagang
Cina sebab mereka taat kepada pemerintah.

Serikat Dagang Islam kemudian tidak diijinkan. Kemudian didirikan
Sarikat Islam di Surabaya antara lain dipimpin oleh HOS Cokroaminoto,
yang mampu berpidato dengan kharismatik, sebenarnya tujuan Sarikat
Islam adalah agar supaya orang hidup sesuai dengan ajaran Al Quran dan
ternyata bahwa dalam daerah-daerah yang banyak pengikutnya, relatif
lebih aman dari pencurian dan pembunuhan.

Sebenarnya Pemerintah Kolonial seharusnya menghargai akan keadaan ini,
menurut ayah, akan tetapi sebaliknya Sarikat Islam tidak diakui oleh
Pemerintah Kolonial dan dalam pers terjadi penghasutan terhadap Sarikat
Islam sehingga ada reaksi yang negatif dari masyarakat Islam, karena
Sarikat Islam dapat mempersatukan semua lapisan masyarakat Islam,
akibat dari penghasutan pers Eropa, juga mengenai semua lapisan
masyarakat Islam.

Ayah saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika beliau kerja pada
Jawatan Kereta api, bagaiman bangsa Eropa berani, melakukan pemukulan
bahkan perkosaan pada kaum pribumi, bila terdapat kesalahan sekecil
apapun bentuknya. Menurut ayah berita-berita dalam surat kabar tentang
kesukaran-kesukaran kuli yang mengancam majikannya, selalu terjadi pada
majikan yang biasanya pendatang baru di Indonesia. Dan rupanya merasa
sangat superior terhadap orang pribumi. Tetapi hal-hal seperti ini
selalu "mengkambing hitamkan" Sarikat Islam, sehingga pertanyaan pada
Gubernur Jenderal untuk pengakuan dan pemberian ijin bagi Sarikat
Islam, ditolak. Dengan alasan bahwa para pemimpinnya tidak dapat
mengendalikan pengikutnya. Ayah saya merasa hal tersebut sangat
disayangkan, karena para pemimpin mereka yakni Cipto Mangunkusumo dan
Suwardi Suryaningrat adalah orang-orang yang berkepribadian tinggi yang
sebenarnya harus mampu secara dialogis meyakinkan Pemerintah Kolonial
bahwa sebenarnya kehadiran Sarikat Islam ini juga baik dan bermanfaat
bagi Pemerintah yang sedang berkuasa. Sarikat Islam yang mewakili semua
lapisan masyarakat Islam sebenar sudah merupakan langkah maju yang
besar untuk menuju Indische Parlemen, tetapi kebodohan Pemerintah
Kolonial malah memenjarakan mereka.

Kemudian pada tahun 1914, berdasarkan laporan dari Indische Vereeniging
yang merupakan cikal bakal dari Perhimpunan Indonesia dari
mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda, ternyata ada
persoalan-persoalan tentang Budi Utomo dan Sarikat Islam, dan ada
perasaan bahwa mereka harus menentukan sikap yang jelas. Ayah saya
ketika itu dipilih menjadi ketua dari organisasi ini. Beliau memberikan
nasehat bahwa organisasinya keluar dari pergolakan politik karena itu
memecah belah dan tidak hanya menjadi pengembira dalam politik, tetapi
mendalami pengetahuan tentang perasaan orang pribumi di Indonesia dan
menyelesaikan lethargie dari rakyat dan membawanya ke fase yang baru
serta kesadaran atas hubungan kemasyarakatan. Kita akan berusaha supaya
memahami dasar-dasar dari setiap kejadian.

Beliau kemudian memberikan penjelasan mengenai cita-cita Minahasa.

Karena Hindia Belanda adalah daerah yang sangat makmur maka dengan
sendirinya salah satu dari negara asia timur utara memanfaatkan situasi
peperangan di Eropa untuk memperbesar wilayah kekuasaannya. Terutama
karena kepulauan kepulauan diluar Jawa, khususnya Selebes, dapat di
duduki tanpa banyak kesukaran.



_________________
View user profile

2 Sambungan..... on Thu Mar 26, 2009 1:05 am

Rakyat yang terbesar di Indonesia adalah rakyat Jawa, tetapi kami dari
kepulauan yang lain tidak dapat begitu saja meleburkan adat istiadat
kami. Kami harus mencari jalan yang sesuai dengan adat istiadat kami.
Bagaimana posisi Minahasa terhadap daerah yang lain. Sebenarnya riwayat
Minahasa saya sendiri tidak tahu lebih banyak dari pada
manuscrip-manuscrip VOC dan Pandita. Jadi sebenarnya rekonstruksi
riwayat dapat dibuat sejak kami bertemu dengan orang Eropa. Hanya dalam
cerita rakyat kami dapat cerita tentang riwayat ornag Minahasa dahulu
kala.

Tapi dalam kenyataan banyak bahwa orang Minahasa dan orang Philipina
mempunyai akar yang sama, juga didalam cerita lama dari rakyat ternyata
bahwa wanita mendapat tempat yang sangat tinggi dan mungkin lebih
tinggi daripada lelaki. Ternyata juga dari tulisan-tulisan Padt Bregge
tahun 1678 bahwa perkawinan itu monogram. Mungkin karena itu Sultan
Ternate pada tahun 1465 mencoba membawa Islam dengan kekerasan tidak
dapat berakar. Ketika itu orang Barat tidak memperdulikan kebutuhan
rohani dari rakyat. Mereka hanya berdagang dengan orang Minahasa untuk
mendapat beras. Baru pada tahun 1515, pemerintah kolonial mulai
memperhatikan hal-hal tersebut. Di Minahasa Residen Jansen, mengusulkan
supaya Minahasa mendapat Pandita-pandita pertama, ialah Riedel dan
Schwarz. Mereka dari aliran Hoess dari Cekosloakia yang hanya dapat
membaptiskan orang bila dapat baca Bijbel. Karena itu mereka banyak
mendirikan sekolah-sekolah. Dengan demikian Kristen sangat cepat
berkembang di Minahasa, juga karena Minahasa sebelumnya telah mengenal
satu Empung (Allah). Tetapi perubahan rakyat besar karena dulu sebagai
orang dayak mereka biasa memotong kepala dalam acara ritualnya. Dengan
adanya Kristen maka hal tersebut tidak dilakukan lagi.

Dan ditahun 1854, tiga orang Minahasa dikirim ke negeri Belanda dan
selesai sebagi guru tahun 1860. Namun ketiganya mau menjadi pandita
juga. Mereka lulus dalam ujian tetapi Gereja menganggap mereka tidak
matang, karena mereka berasal dari masyarakat yang baru menjadi
Kristen. Lalu mereka kembali ke Minahasa dengan perasaan yang
tersinggung.

Pengembangan pengetahuan biasanya menyebabkan pengetahuan yang lebih
banyak lagi, tapi dengan perkembangan tersebut, membuat masyarakat
Minahasa tidak mau bertani lagi. Sehingga anak-anak Minahasa
meninggalkan daerahnya dan kerja dikantor-kantor dan sebagainya untuk
menjadi pegawai rendah menengah. Ayah saya mengatakan hal itu tidak
baik, karena tanah Minahasa cukup subur dan perlu tenaga untuk
mengolahnya. Beliau mengemukakan agar segera mengeluarkan kebijakan
untuk menghentikan kehilangan tenaga masyarakat dalam pertanian. Tetapi
beliau sudah tahu sebelumnya, bahwa sekolah-sekolah pertanian dan
pertukangan gagal di Minahasa karena orang tua menginginkan sekolah
tinggi untuk anak-anaknya. Dan anak-anak Minahasa banyak dipekerjakan
sebagai pegawai di seluruh Indonesia.

Perlu dikemukakan disini bahwa kebiasaan-kebiasaan orang Minahasa sudah
hilang dan mereka hidup sebagai orang Eropa. Dalam pergaulan mereka
bersikap sama tinggi dengan orang Eropa. Pekerjaan mereka diluar
Minahasa menyebabkan, bahwa mereka dijuluki Belanda Menado. Karena
mereka bekerja hanya untuk mendapat uang saja. Tetapi saya tidak tahu
bagaimana menghentikan hal ini. Namun sebenarnya tenaga-tenaga yang
paling baik yang keluar dari Minahasa, sehingga yang tertinggal
hanyalah yang kurang baik. Pikiran beliau bahwa pendidikan di Minahasa
harus lebih baik lagi agar dapat mendidik anak-anak Minahasa lebih baik
lagi dari daerah daerah lain. Telah terlihat bahwa kepulauan Sangihe
Talaut yang juga ikut dengan Minahasa, pertumbuhan ekonominya lebih
tinggi dari Ternate. Dan sebenarnya guru-guru Minahasa telah tersebar
di seluruh Celebes. Orang Minahasa yang berguna diseluruh Indonesia,
sebenarnya adalah produk-produk dari pandita pioner Riedel dan Schwarz.

Demikianlah catatan tentang Minahasa Ideal dari ayah saya yang ditulis pada tahun 1914.

Ternyata dalam tulisan-tulisan beliau ketika masih sangat muda, beliau
telah memikirkan keadaan Minahasa dalam Indonesia, dan sudah sedikit
terlihat bagaimana tenaga-tenaga Indonesia pada umumnya akan dapat
berkembang. Sebenarnya kehendak rakyat tidak dapat di kekang, karena
kehendak itu biasanya akibat dari aliran-aliran yang akan tumbuh besar.
Bila tidak diakui maka yang tidak mengakuinya akan menjadi korbannya.
Jadi kekuatan ayah saya dalam hal politik ialah mengenal dan mengakui
kemauan rakyat walaupun mungkin tidak sejalan dengan kemauannya sendiri.



Saya hendak mengemukakan satu kesan yang mendalam tentang ayah saya.

Waktu tahun 1945 – 1946, ayah saya menjadi gubenur Sulawesi, dan
dibelakangnya belum ada organisasi-organisasi yang kuat untuk
mempertahankannya. Jadi jalan yang terbuka untuknya hanya ialah jalan
sebagai Gubernur Republik Indonesia di Sulawesi yang cari kerjasama
dengan tentara Australia (Sekutu) yang berkedudukan di Sulawesi
Selatan, secara resmi. Dan sebenarnya tak ada satu tindakannya yang
dapat dianggap sebagai pemberontakkan dan sebagainya, hanya beliau
mengharap untuk diakui sebagai gubernur RI. Karena itu tidak dibenarkan
untuk menangkapnya. Pun ketika NICA Belanda masuk, selalu ada
pertukaran pikiran antara gubernur RI dengan pihak yang berkuasa.
Tetapi sambil diskusi itu organisasi politik di Sulawesi mulai
terbentuk. Hal mana tidak menjadikan alasan juridis untuk menangkap
ayah saya. Tetapi walaupun demikian ayah yang diambil dari rumah lantas
dibawa kekapal dengan pengawalan sangat ketat untuk dibawa ke Serui.

Baru sekarang saya mengetahui bahwa Belanda ketika itu sangat takut
kehilangan pulau Sulawesi. Pun karena pemberontakan Sulawesi Utara pada
bulan Pebruari 1946, ayah saya dibuang ke Serui pada bulan April 1946
dan ternyata General Spoor sedemikian takut sehingga dia kirim DST
(Depot Speciale Troepen) yang merupakan kesatuan khusus dibawah
pimpinan Kapten Westerling yang sebenar dididik untuk melawan Jerman.
Kejadian-kejadian sesudahnya yang membawa banyak korban di Sulawesi
Selatan, yang sekarang banyak disesalkan oleh orang Belanda. Sebenarnya
setiap kejadian pembantaian massal, dilaporkan atas nasehat ayah dan
rupanya diserahkan kepada Tadjudin Noor SH., yang kemudian menjadi
ketua parlemen Indonesia Timur.

Data-data ini digunakan oleh Tadjudin Noor SH untuk menghindarkan
hukuman mati bagi Datuk Supa, raja dari Bone yang dalam penjara. Dan
ketika itu Tadjudin Noor diharuskan memberikan bukti-bukti bahwa
tindakan tentara belanda di Sulawesi Selatan sangat buruk. Ternyata
dalam 24 jam beliau dapat menyerahkan 11 halaman sebagai bukti, dan
Gubernur General memutuskan tidak boleh dihukum mati. Tetapi anak buah
Westerling, dalam perjalanan dari penjara Pare-pare ke Makasar, Raja
Bone yang dikawal mereka, mereka bunuh dengan alasan mencoba melarikan
diri. Hal ini oleh pihak Belanda pun tidak dipercaya, dan cerita
tentang pembunuhan massal di Sulawesi Selatan oleh Westerling masuk
surat kabar belanda NRC bulan Juli 1947, kemudian data-data ini
digunakan oleh duta besar Indonesia Palar di PBB dan pemerintah
Republik Indonesia juga menerbitkan suatu brosur dengan judul ‘Massacre
Macassar’.

Mungkin saya tidak harus lagi harus memberikan penjelasan lebih lanjut
tetang Sam Ratulangi sebagai pejuang kemerdekaan. Kecuali satu hal
walaupun beliau dibuang ke Serui, namun ketika beliau keluar dari
pembuangan dan berada di Jakarta, kami keluarga besar Ratu Langi
berjalan dengan bus ke Cilincing dan waktu kembali ke rumah, melihat
bendera Belanda berkibar setengah tiang. Kami mendapat berita bahwa
General Spoor meninggal dan kami pun bersorak sorai bergembira karena
dia yang mengirimkan Westerling ke Sulawesi Selatan. Ayah tertegun dan
terus mengatakan:

"…….Janganlah begitu, Spoor itu seorang yang menjalankan tugasnya sebagaimana yang dimengertinya……………."

Waktu saya cerita ini kepada wartawan muda Amerika, dia berkata:

"…………mudah-mudah Indonesia masih mempunyai pemimpin-pemimpin seperti itu………….."

Tondano, 27 Juni 1999

sumber: http://www.geocities.com/lanirat/sar...akalahZusB.htm


_________________
View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum