° aNaNda ScHoooL °
LogIN dLo ya... ^^v.
Bagi Yg Blm Mempunyai. Harap Registrasi terlebih dahulu.

By : adminisTraTor
° aNaNda ScHoooL °

° aNaNda ScHoooL ° ForuM ..

Di Sarankan untuk Rajin Memposting. Oh Galih, Oh Ratna ~ Oh Hoki, Oh Adam ~.stiap member yg udh memposting sebanyak 50x. akan di perbolehkan mengganti nickname ( nama ) dengan mengkonfirmasikan kepada administrator terlebih dahulu.So. We Are The Best So Join Us.

You are not connected. Please login or register

Gunung Tambora, dan letusan 1815 nya yg mengerikan

View previous topic View next topic Go down  Message [Page 1 of 1]

Gunung Tambora
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia.
Gunung ini terletak di dua kabupaten yaitu, kabupaten Dompu (sebagian
kaki sisi selatan sampai barat laut, dan kabupaten Bima (bagian lereng
sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur
hingga utara), provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan
118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak
oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini
meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m[1] yang membuat gunung
ini sebagai salah satu puncak tertinggi di Indonesia dan mengeringkan
dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi
kembali dapur magma tersebut.

Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic
Explosivity Index.[2] Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak
letusan danau Taupo pada tahun 181.[3] Letusan gunung ini terdengar
hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di
Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan
kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000
diantaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.[3]
Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh,
tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang
terlalu tinggi.[4] Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan
perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut
sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca
Amerika Utara dan Eropa akibat awan panas yang dihasilkan dari letusan
Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini, banyak panen yang
gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya
kelaparan terburuk pada abad ke-19.[3]

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan
sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3
meter pada endapan piroklastik.[5] Artifak-artifak tersebut ditemukan
pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena
ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai
Pompeii dari timur.

Geografi

Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa yang merupakan bagian
dari kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini adalah bagian dari busur
Sunda, tali dari kepulauan vulkanik yang membentuk rantai selatan
kepulauan Indonesia.[6] Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di
pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utara
semenanjung tersebut, terdapat laut Flores, dan di sebelah selatan
terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut
teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo.

Selain seismologis dan vulkanologis yang mengamati aktivitas
gunung tersebut, gunung Tambora adalah daerah untuk riset ilmiah
arkeolog dan biologi. Gunung ini juga menarik turis untuk mendaki
gunung dan aktivitas margasatwa.[7][8] Dompu dan Bima adalah kota yang
letaknya paling dekat dengan gunung ini. Di lereng gunung Tambora,
terdapat beberapa desa. Di sebelah timur terdapat desa Sanggar. Di
sebelah barat laut, terdapat desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan. Di
sebelah barat, terdapat desa Calabai.

Terdapat dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera gunung
Tambora. Rute pertama dimulai dari desa Doro Mboha yang terletak di
sisi tenggara gunung Tambora. Rute ini mengikuti jalan beraspal melalui
perkebunan kacang mede sampai akhirnya mencapai ketinggian 1.150 m
diatas permukaan laut. Rute ini berakhir di bagian selatan kaldera
dengan ketinggian 1.950 m yang dapat dicapai oleh titik pertengahan
jalur pendakian.[9] Lokasi ini biasanya digunakan sebagai kemah untuk
mengamati aktivitas vulkanik karena hanya memerlukan waktu satu jam
untuk mencapai kaldera. Rute kedua dimulai dari desa Pancasila di sisi
barat laut gunung Tambora. Jika menggunakan rute kedua, maka kaldera
hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.[9]

Sejarah geologis

Pembentukan

Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan
180-190 km diatas zona subduksi. Gunung ini terletak baik di sisi utara
dan selatan kerak oseanik.[10] Gunung ini memiliki laju konvergensi
sebesar 7.8 cm per tahun.[11] Tambora diperkirakan telah berada di bumi
sejak 57.000 BP (penanggalan radiokarbon standar).[2] Ketika gunung ini
meninggi akibat proses geologi di bawahnya, dapur magma yang besar ikut terbentuk dan sekaligus mengosongkan isi magma. Pulau
Mojo pun ikut terbentuk sebagai bagian dari proses geologi ini dimana
teluk Saleh pada awalnya merupakan cekungan samudera (sekitar 25.000
BP).[2]

Menurut penyelidikan geologi, kerucut vulkanik yang tinggi sudah
terbentuk sebelum letusan tahun 1815 dengan karakteristik yang sama
dengan bentuk stratovolcano.[12] Diameter lubang tersebut mencapai 60
km.[6] Lubang utama sering kali memancarkan lava yang mengalir turun
secara teratur dengan deras ke lereng yang curam.

Sejak letusan tahun 1815, pada bagian paling bawah terdapat
endapan lava dan material piroklastik. Kira-kira 40% dari lapisan
diwakili oleh 1-4 m aliran lava tipis.[12] Scoria tipis diproduksi oleh
fragmentasi aliran lava. Pada bagian atas, lava ditutup oleh scoria,
tuff dan bebatuan piroklastik yang mengalir ke bawah.[12] Pada gunung
Tambora, terdapat 20 kawah.[11] Beberapa kawah memiliki nama, misalnya
Tahe (877 m), Molo (602 m), Kadiendinae, Kubah (1648 m) dan Doro Api
Toi. Kawah tersebut juga memproduksi aliran lava basal.

[sunting] Sejarah letusan

Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan
bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun
1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.[13] Perkiraan tanggal
letusannya ialah tahun 3910 SM ± 200 tahun, 3050 SM dan 740 ± 150
tahun. Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang
sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi
terdapat pengecualian untuk erupsi ketiga. Pada erupsi ketiga, tidak
terdapat aliran piroklastik.

Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak
letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.[13] Besar letusan ini
masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan
jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.[13]
Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran
piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan
runtuhnya kaldera. Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam
waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru
berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.[13] Aktivitas selanjutnya kemudian
terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan
kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap
sebagai bagian dari letusan tahun 1815.[3] Letusan ini masuk kedalam
skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880 ± 30 tahun, Tambora
kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera.[13] Letusan ini membuat
aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk
kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.[14]

Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran
lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad
ke-20.[15] Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967,[13] yang disertai
dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi
tanpa disertai dengan ledakan.

Letusan tahun 1815

Kronologi letusan
Daerah yang diperkirakan terkena abu letusan Tambora tahun 1815. Daerah
merah menunjukan ketebalan abu vulkanik. Abu tersebut mencapai pulau
Kalimantan dan Sulawesi (ketebalan 1 cm).
Daerah yang diperkirakan terkena abu letusan Tambora tahun 1815. Daerah
merah menunjukan ketebalan abu vulkanik. Abu tersebut mencapai pulau
Kalimantan dan Sulawesi (ketebalan 1 cm).

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum
tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang merupakan
hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang
tertutup.[6] Didalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1.5-4.5 km,
larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat
pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5
kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.[6]

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan
menghasilkan awan hitam.[1] Pada tanggal 5 April 1815, erupsi terjadi,
diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km
dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km
dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung
Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada
tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang
awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.[16] Pada pagi hari
tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan
suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 7:00 malam tangagl 10 April, letusan gunung ini semakin
kuat.[1] Tiga lajur api terpancar dan bergabung.[16] Seluruh pegunungan
berubah menjadi aliran besar api.[16] Batuan apung dengan diameter 20
cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada
pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju
laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan
besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa
Barat dan Sulawesi Selatan. Bau "nitrat" tercium di Batavia dan hujan
besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara
tangal 11 dan 17 April 1815.[1]

Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5
April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut
dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh
pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah
detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos
terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada
dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada
dalam keadaan darurat.


_________________
View user profile

2 Sambungan.... on Thu Mar 26, 2009 1:22 am

— Laporan Thomas Stamford Raffles.[16]

Letusan tersebut masuk kedalam skala tujuh dalam skala Volcanic
Explosivity Index.[17] Letusan ini empat kali lebih kuat daripada
letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik
trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1.4×1014 kg.[3] Hal
ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700
m.[1] Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m².[18]
Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300
m,[1] salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi
gunung ini hanya setinggi 2.851 m.[19]

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah.[1][3]
Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya
sejauh 1.300 km.[1] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung
selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20
km dari puncak.

[sunting] Akibat

Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang, bercampur
dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan jarak
lintas diatas 5 km .[1] Rakit batu apung lainnya ditemukan di samudera
Hindia, didekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815.[3] Awan
dengan abu tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April.
Ledakan berhenti pada tanggal 15 Juli, walaupun emisi asab masih
terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api dan gempa susulan dilaporkan
terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat tahun setelah letusan.

Dalam perjalananku menuju bagian barat pulau, aku hampir melewati
seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran
terhadap penduduk yang berkurang memberikan pukulan hebat terhadap
penglihatan. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda banyak lainnya
telah terkubur: desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah
rubuh, penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.
...
Sejak letusan, diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir, yang
menyerang jumlah penduduk yang besar. Diduga penduduk minum air yang
terkontaminasi abu, dan kuda juga meninggal, dalam jumlah yang besar
untuk masalah yagn sama.

—Letnan Philips diperintahkan Sir Stamford Raffles untuk pergi ke Sumbawa.[16]

Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal
10 April, dengan ketinggian diatas 4 m di Aanggar pada pukul 10:00
malam.[1] Tsunami setinggi 1-2 m dikaoirjab terjadi di Besuki, Jawa
Timur sebelum tengah malam dan tsunami setinggi 2 m terjadi di Maluku.

Tinggi asap letusan mencapai stratosfer, dengan ketinggian lebih dari
43 km.[3] Partikel abu jatuh 1 sampai 2 minggu setelah letusan, tetapi
terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama
beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km.[1] Angin
bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat
terjadinya fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat
di London, Inggris diantara tangal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3
September dan 7 Oktober 1815.[1] Pancaran cahaya langit senja muncul
berwarna orange atau merah didekat ufuk langit dan ungu atau merah muda
diatas.

Jumlah perkiraan kematian bervariasi, tergantung dari sumber yang ada.
Zollinger (1855) memperkirakan 10.000 orang meninggal karena aliran
piroklastik. Di pulau Sumbawa, terdapat 38.000 kematian karena
kelaparan, dan 10.000 lainnya karena penyakit dan kelaparan di pulau
Lombok.[20] Petroeschevsky (1949) memperkirakan sekitar 48.000 dan
44.000 orang terbunuh di Sumbawa dan Lombok.[21] Beberapa pengarang
menggunakan figur Petroeschevsky, seperti Stothers (1984), yang
menyatakan jumlah kematian sebesar 88.000 jiwa.[1] Tanguy (1998)
mengklaim figur Petroeschevsky tidak dapat ditemukan dan berdasarkan
referensi yang tidak dapat dilacak.[4] Tanguy merevisi jumlah kematian
berdasarka dua sumber, sumber dari Zollinger, yang menghabiskan
beberapa bulan di Sumbawa setelah letusan dan catatan Raffles.[16]
Tanguy menunjukan bahwa terdapat banyak korban di Bali dan Jawa Timur
karena penyakit dan kelaparan. Diperkirakan 11.000 meninggal karena
pengaruh gunung berapi langsung dan 49.000 oleh penyakit epidemi dan
kelaparan setelah erupsi.[4] Oppenheimer (2003) menyatakan jumlah
kematian lebih dari 71.000 jiwa seperti yang terlihat di tabel
dibawah.[3]
Perbandingan letusan gunung Tambora dan letusan gunung lainnya Letusan
Tahun Tinggi asap (km) VEI Perubahan musim panas Belahan bumi utara
(°C) Kematian
Taupo 181 51 7 ? tidak diketahui
Baekdu 969 25 6–7 ? ?
Kuwae 1452 ? 6 −0.5 ?
Huaynaputina 1600 46 6 −0.8 ≈1400
Tambora 1815 43 7 −0.5 > 71.000
Krakatau 1883 25 6 −0.3 36.600
Santamaría 1902 34 6 tidak terdapat perubahan 7.000-13.000
Katmai 1912 32 6 −0.4 2
Gunung St. Helens 1980 19 5 tidak terdapat perubahan 57
El Chichón 1982 32 4–5 ? > 2.000
Nevado del Ruiz 1985 27 3 tidak terdapat perubahan 23.000
Pinatubo 1991 34 6 −0.5 1202
Sumber: Oppenheimer (2003),[3] dan Smithsonian Global Volcanism Program untuk VEI.[22]

[sunting] Pengaruh global

Lihat pula: Tahun tanpa musim panas

Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh
tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan
yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).
Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh
tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan
yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991).[23]

Letusan gunung Tambora tahun 1815 mengeluarkan sulfur ke stratosfer,
menyebabkan penyimpangan iklim global. Metode berbeda telah
memperkirakan banyaknya sulfur yang dikeluarkan selama letusan: metode
petrologi, sebuah pengukuran berdasarkan pengamatan anatomi, dan metode
konsentrasi sulfat inti es, menggunakan es dari Tanah Hijau dan
Antartika. Figur beragam tergantung dari metode, berjarak dari 10 Tg S
sampai 120 Tg S.[3]

Pada musim semi dan musim panas tahun 1816, sebuah kabut kering
terlihat di timur laut Amerika Serikat. Kabut tersebut memerahkan dan
mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada matahari yang terlihat
dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat menghilangkan
"kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut
aerosol sulfat stratosfer.[3] Pada musim panas tahun 1816, negara di
Belahan Utara menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut
sebagai Tahun tanpa musim panas. Temperatur normal dunia berkurang
sekitar 0.4-0.7 °C,[1] cukup untuk menyebabkan permasalaan pertanian di
dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca penuh es dilaporkan di
Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh New England
digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di Albany,
New York, dan Dennysville, Maine.[3] Kondisi serupa muncul untuk
setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara.
Kanada mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm
terhimpun didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.

1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Utara sejak tahun 1400 AD,
setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600.[17] Tahun
1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan
Tambora tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun
1809 dan tahun 1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas
tahun 1816, 1817 dan tahun 1818 sebesar -0.51, -0.44 dan -0.29 °C,[17]
dan juga musim panas yang lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami
badai salju yang lebih deras.

Latar belakang perubahan iklim disalahkan untuk terjadinya wabah tifus
di Eropa tenggara dan laut Tengah bagian timur diantara tahun 1816 dan
tahun 1819.[3] Banyak ternak meninggal di New England selama musim
dingin tahun 1816-1817. Temperatur dingin dan hujan besar menyebabkan
gagal panen di Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi
dan mengemis untuk makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan
barat daya karena gandum, haver dan kentang mengalami gagal panen.
Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik dengan tajam. Akibat
kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan terjadinya demonstrasi
di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan kerusuhan, pembakaran
rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota di Eropa. Hal ini
adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.[3]


_________________
View user profile

View previous topic View next topic Back to top  Message [Page 1 of 1]

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum